Langsung ke konten
EtnoJourney
Kriya & Wastra

Tenun Homoru di Liya Togo

Wakatobi, Sulawesi Tenggara

Foto: Jenny from Taipei · CC BY 2.0

Durasi
2 hari
Rombongan
Maks. 8 orang
Kategori
Kriya & Wastra
Tingkat kesulitan
Santai
Cocok untuk hampir semua orang; banyak berhenti dan jalan kaki ringan.
Bahasa
Indonesia, Inggris

Tentang perjalanan ini

Dua hari di desa budaya Liya Togo: belajar menenun homoru, menyusuri benteng Liya dan Masjid Keraton Liya.

Liya Togo di Wangi-Wangi Selatan adalah desa budaya yang hanya sekitar lima belas menit dari pusat Kabupaten Wakatobi. Di beranda rumah, perempuan menenun kain homoru yang dipakai sebagai sarung, selendang, dan penutup kepala. Kamu akan diperkenalkan pada alat tenun, cara menyusun benang, dan motif yang diwariskan antargenerasi, lalu mencoba menenun beberapa baris sendiri. Di sela waktu menenun, kita menyusuri Benteng Liya yang mengelilingi desa dan Masjid Keraton Liya, keduanya peninggalan masa Kesultanan Buton, serta mengenal anyaman daun pandan dan tudung saji tradisional yang juga dibuat warga.

Dipandu oleh komunitas lokal di Wakatobi

Yang akan kamu alami

  • Belajar menenun homoru bersama penenun
  • Benteng Liya dan Masjid Keraton Liya
  • Anyaman pandan dan tudung saji tradisional
  • Kelompok kecil, maksimal delapan orang

Rencana perjalanan

  1. Hari 1

    Liya Togo

    Tiba di desa, perkenalan dengan penenun, sore kelas tenun homoru.

  2. Hari 2

    Benteng Liya

    Pagi menyusuri Benteng Liya dan Masjid Keraton Liya, siang melanjutkan tenunan, lalu kembali ke bandara.

Sudah termasuk

  • Homestay 1 malam di Liya Togo
  • Makan 3 kali
  • Kelas tenun dan bahan
  • Transportasi dari bandara
  • Pemandu lokal dari komunitas

Belum termasuk

  • Penerbangan ke Wakatobi
  • Pembelian kain tenun
  • Asuransi perjalanan
  • Pengeluaran pribadi dan oleh-oleh

Persiapan

Hal-hal praktis agar perjalananmu nyaman dan tuan rumahmu merasa dihormati.

Yang perlu dibawa

  • Pakaian sopan yang menutup bahu dan lutut
  • Tabir surya dan topi
  • Uang tunai secukupnya; ATM jarang di lokasi
  • Botol minum isi ulang

Etika di lokasi

  • Kawasan benteng dan masjid tua Liya adalah situs bersejarah; berpakaian sopan dan lepas alas kaki di masjid
  • Hargai waktu penenun dan tanyakan sebelum memotret motif
  • Gunakan tangan kanan saat memberi atau menerima sesuatu

Cara ke sana

Bandara Matahora di Wangi-Wangi dilayani penerbangan dari Makassar dan Kendari dengan frekuensi terbatas. Alternatifnya terbang ke Baubau di Pulau Buton, lalu kapal semalam ke Wanci. Antarpulau di Wakatobi ditempuh dengan perahu.

Titik kumpul

Bandar Udara Matahora, Wangi-Wangi, Wakatobi

Buka di Maps

Ulasan pelancong

Belum ada ulasan untuk tur ini.

Ulasan dapat ditulis setelah perjalanan selesai, dari halaman Akun.

Perjalanan serupa yang mungkin kamu suka

MulaiRp 2.600.000 / orang